Senin, 29 Agustus 2011

Segenggam Kenangan

Basi kali ya, kalau mulainya dengan "Haloooooooo... Gilak udh lama ye gw gak ngepost blooggg. Aduuuh sorrry ya gw sibuk bet", serasa banyak sekali orang yang membaca blog ini.
Haha, tapi memang sekolah itu bikin jadwal jadi padat banget (alibi). Benar seperti yang teman-teman saya katakan: "Guru-guru gak ikhlas ngasih libur. Kenapa? Buktinya PR tuh gak pernah habis. Selalu numpuk! Belum lagi yang mesti belajar buat tes habis liburan," dan memang itu kenyataannya. Sekarang saya sedang merayakan liburan Lebaran selama dua minggu, tapi PR dan ulangan yang mendatang itu gak kira-kira. Ini namanya bukan liburan, tapi belajar di rumah.
Anyway, saya ingin meng-update kabar saya, sekalian menceritakan apa yang udah saya alami. Bukan sok eksis kok, justru saya berharap teman-teman dapat belajar ataupun menghindari dari apa yang sudah saya alami.
Sekarang udah pertengahan tahun 2011, itu artinya saya sedang duduk di kelas 11 dan ajaibnya......... sekolah saya sekarang di Tiara Bangsa tereteteng~ wah bagaimana caranya? Nanti kita bahas :D.
Banyak sekali kejadian-kejadian menarik yang saya alami selama tahun 2010-2011, namun kalau saya bahas satu-persatu pasti akan ngejlimet dan panjang lebar banget. Jadi beberapa saja yaa.
Tahun 2010 itu tahun yang menarik. Maksudnya, banyak momen-momen 'cantik' yang terjadi pada tahun ini. Dan pastinya, saya banyak belajar hal-hal baru dan menantang di tahun 2010. Zaman-zaman ketika saya sibuk dengan UN dan tetek bengek-nya (klik link ini untuk membaca Persiapan UN). Sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi IGCSE tests, dan lain-lain.
Ini yang terjadi pada tahun 2010:

Hello, Royal Caribbean
Sebelum saya menginjakan kaki saya ke tahun ajaran 2010-2011, pastinya saya menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga besar (sekitar 50 orang). Dan liburan itu diadakan di atas kapal pesiar (atau istilah kerennya Cruise). Nama kapal itu adalah Royal Caribbean dan besarnya itu melebihi kapal Titanic!
  
Royal Caribbean
Lihat saja fotonya. Orang-orang menyebutnya Pangeran Laut, dan memang kapal itu pantas mendapatkan titel tersebut.
Di dalam kapal itu ada kolam berenang, tempat berjudi, tempat shopping, klab anak muda, lapangan basket dan bola, dan lainnya! Tempat yang paling mengasyikan adalah lantai paling atas. Di tempat ini kita bisa menghabiskan waktu dengan menikmati angin laut dan berjemur di atas hangatnya sinar mentari! Jadi nostalgia :P
Di kapal ini, kita merayakan tahun baru 2011 bersama orang Filipina, Australia, Singapura (kapal ini mangkal di Singapura), Korea, dan sebagainya. Kapal ini berlayar ke Thailand, Singapur, dan Malaysia.
Bagaimana dengan breakfast, lunch and dinner? 24 jam!!! Tidak heran selama 8 hari saya menghabiskan waktu di atas kapal tersebut, berat badan saya naik 10 kg (ini bukan penipuan). Bagaimana tidak? Makanan di kapal ini adalah makanan Western, Asian and European yang tiada duanya.

Hi, Global Prestasi School! :D
Memang benar, waktu itu saya pernah merencanakan untuk sekolah di Tiara Bangsa, dan hasilnya gagal dua kali (Klik link ini untuk membaca postingan Tiara Bangsa). Jujur, waktu itu saya merasa sangat sedih, karena memang sekolah lain sudah tutup registrasi. Mau tidak mau, saya harus meneruskan Sekolah Menengah Atas saya di Global Prestasi. Dan saat itu, saya merasa gagal. Kenapa? Teman-teman saya pindah ke sekolah lain yang menurut mereka itu lebih bagus dari Global Prestasi, dan banyak rumor yang mengatakan bahwa SMA Global Prestasi itu tidak bagus.
Hari pertama saya duduk di bangku SMA Global Prestasi adalah bulan Januari 2011. Saya masih ingat, waktu itu saya merupakan siswa yang terlambat datang dan untungnya tidak ada hukuman karena saya adalah siswa baru.
Kelas saya (bukan kelas sih, tapi Homebase, karena SMA Global Prestasi kan Moving Class - jadi setiap pelajaran berbeda ruangannya dan kita, murid, harus pindah ruangan) berada di lantai 4, ruangan paling pojok. Saat saya masuk ke kelas itu, sudah ada teman-teman lama saya, yaitu Adrian, Sheby, Maudy, Della, Intan, dan Ami. Hanya 7 orang karena kelas kami adalah kelas O Level. Dulu, ketika saya duduk di kelas 7, jumlah murid O Level di kelas saya adalah 25 orang, dan waktu itu, ketika saya duduk di kelas 10, hanya tesisa 7 orang.
Nama wali kelas kami waktu itu adalah Mr Fajar. Beliau orangnya sangat baik dan sabar. Waktu itu kami sedang mengatur organisasi kelas kami, seperti ketua kelas, wakil ketua kelas, dan seksi-seksi yang bersangkutan. Adrian menjadi ketua kelas dan Maudy menjadi wakilnya. Saya menjadi seksi keseksian keamanan.
Setelah jam homeroom selesai, akhirnya kita masuk ke pelajaran sekolah. Ternyata, kelas yang kami duduki tadi itu bukan kelas tempat kami belajar, melainkan kelas yang kami dudukin ketika sedang ujian weektest (ujian yang diadakan selama seminggu dalam rentan waktu dua minggu sekali - hayo bingung). Nah, di mana kelas kami? Berikut fotonya:


My Beloved Class, X5
Chaos! Kelas itu berada di lantai 3 dan terpelosok. Dibuat dalam waktu 3 hari. Kelas kami gordennya merupakan kain hitam, lantai tidak ada ubin (hanya semen), tembok dari triplek, tidak ada jam, bangku yang kami pakai merupakan bangku anak SD. Ditambah lagi, hanya murid O Level yang tidak moving class. Jadi selamanya kita akan belajar di ruang itu, di semua mata pelajaran!!! Ah, mengingatkan saya pada film Laskar Pelangi.
Waktu pertama kali kami diperkenalkan dengan kelas tersebut, kami tidak mau diam. Bayangkan saja: kita membayar SPP sama - bahkan lebih mahal - dari anak-anak yang bukan O Level. Namun, yang kami dapat lebih jelek daripada mereka. Dan alasan koordinator waktu itu adalah "Kelas O Level kan tanggung jawabnya SMP, bukan SMA." HA! Absurd ya? Kan satu yayasan!
Oleh karena itu, kita komplain dan dengan berbagai alasan, akhirnya kami diberikan keadilan. Kelas kami dirakit sedemikian nyamannya hingga lebih menyerupai kelas disko dan kamar tidur daripada kelas tempat belajar.
Ini gambarnya:

Bersama mantan teman kelas kami, Ricky, dan Ms Benata

Kelas Disko
Nah, berbeda kan? Gorden di kelas kami diganti menjadi gorden yang lebih layak. Lalu ada jam dinding, dan semen yang kami gunakan dilapisi oleh karpet warna biru. Ditambah lagi rak sepatu yang terdapat pada pojok ruangan. Jadi, kalau ingin masuk ruangan kelas kami, sepatu harus dilepaskan terlebih dahulu.
Lucunya, banyak teman-teman dari kelas regular dan kakak kelas yang sirik   dengan kelas kami HAHA! Mereka datang ke kelas kami lalu mengolok-olok dan menyindir kami dengan sinisnya, misal: "Ih, gila, kelas atau tempat tidur ya? haha." Padahal, sebelum kelas kami dirubah, banyak dari mereka yang merendahkan derajat kami, misalnya: "Oh? Ini kelas ya? Kirain gudang," sekarang mereka yang gigit jari.
Guru-guru yang mengajar kami pun merasa jauh lebih nyaman dibandingkan dengan kelas regular. Buktinya, mereka mengajar dengan cara lebih santai dan mereka jarang sekali marah, dibandingkan dengan cara mereka mengajar di kelas regular. Pokoknya beda deh. Kelas kami itu kelas terbaik yang ada di manapun!
Dulu, waktu kelas 7-9, Global bekerja sama dengan Shelton College. Dan kami merasa bahwa Shelton itu college abal-abalan. Lebih mirip pabrik roti, dan memang kualitas pendidikan di tempat itu sangat buruk. Nah, akhirnya, koordinator kelas O Level kami merombak kurikulum O Level menjadi IGCSE Cambridge! Keren kan? Biayanya pun lebih murah dari Shelton, dan asal kalian tahu, Cambridge itu diakui di seluruh dunia, berbeda dengan Shelton yang hanya mangkal di Singapur. Orang-orang di Singapur pun tidak tahu apa itu Shelton College, karena saking tidak terkenalnya.
Itu berarti, kita - kelas X5 (O Level) - memiliki 3 kurikulum, yaitu kurikulum IGCSE, nasional plus, dan Ms Liana Garcellano. Apa itu kurikulum Ms Garcellano? Begini, guru yang namanya Ms Liana itu suka membuat rute pelajaran sendiri. Mungkin dia merasa dia bukan bagian dari Global. Bayangkan saja, di tengah-tengah kesibukan kami mengerjar mati-matian IGCSE (IGCSE itu normalnya dipersiapkan selama 2 tahun, namun kita mempersiapkan kurang dari 1 tahun) dan nasional plus, Ms Garcellano memberikan kita projek Research Paper, yang akan kalian temui di kelas 12 (karya ilmiah). Dan gilanya, bukan hanya 1, tapi DUA RESEARCH PAPERS. Jujur, buat saya, 1 research paper itu sangat membantu, karena memang berguna untuk mempersiapkan mental kami untuk di kuliah nanti, tapi kalau 2 research papers itu mengganggu. Sangat mengganggu kesibukan kami yang lain.
Pelajaran IGCSE yang kami ambil adalah Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, dan Kimia. Matematika dipegang oleh Ms Benata. Beliau itu mantan wali kelas kami di kelas 9, sekaligus guru matematika regular kami di kelas 9. Ms Ben sangat berjasa bagi kami, beliau sangat sabar menangani kami dan sangat berani! Bayangkan saja, mata pelajaran yang seharusnya dipersiapkan selama 2 tahun, ia berani mengambil resiko dengan mengajarkan kami dalam waktu 1 tahun!! Begitu juga dengan Ms Krista, guru fisika kami. Jujur, menurut saya, fisika itu pelajaran yang tersulit di antara keempat pelajaran tersebut, namun Ms Krista dengan sabarnya bisa 'menyuapi' satu demi satu materi yang tertinggal jauh dibandingkan dengan sekolah-sekolah internasional yang telah menyiapkan materi IGCSE dari kelas 9. Bahasa Inggris, pastinya, dipegang oleh Ms Garcellano. Dan jujur, dari satu tahun kita belajar dengan beliau, kita hanya mempersiapkan IGCSE sebanyak 20 persen. Dan lainnya kita mengikuti rutenya sendiri. Karena memang beliau beranggapan bahwa inggris kita sudah lihai. Kita disuruh menghapalkan lebih dari 120 New Words in English - ya, ditengah kesibukan kami mempersiapkan IGCSE. Bagaimana dengan kimia? Jujur, gurunya tidak bisa mengajar sama sekali. Beliau memang tidak berpengalaman menjadi guru, namun suster di rumah sakit. Tapi saya pun heran mengapa beliau mencalonkan diri sebagai guru di sekolah kami. Padahal, kimia itu jauh lebih mudah daripada fisika. Namun, sayang....
Oh ya, sebelumnya mari saya jelaskan secara singkat apa IGCSE itu. Jadi, IGCSE itu merupakan singkatan dari International General Certificate of Secondary Education. Nah, dari namanya saja kita sudah bisa mengetahui bahwa sertifikat IGCSE ini diakui oleh seluruh negara. IGCSE sendiri dibuat oleh universitas nomor 1 di dunia, yaitu Cambridge, yang bertempat di Inggris. Tingkat kesulitan tes IGCSE itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu Extended (complicated/sulit) dan Core (dasar/mudah). Siswa yang mengambil extended bisa mendapatkan nilai tertinggi, yaitu A* (90-100), namun bisa mendapatkan G/U (nilai terjelek). Sedangkan Core, nilai tertingginya itu adalah C (50-60), namun probabilitas mendapatkan nilai terjelek itu sangat kecil, karena core kan mudah. Saya mengambil extended di semua pelajaran.
Sebenarnya, tes IGCSE itu ada banyak sekali, namun karena ini tahun pertama Global mengadakan tes IGCSE, jadi koordinator O Level hanya mengambil empat pelajaran, dan bukan kami yang memilih. Di setiap mata pelajaran yang diujikan oleh IGCSE Cambridge, terdapat beberapa papers. Itu maksudnya, dalam satu pelajaran yang diujikan tidak hanya 1 tes, tetapi lebih. Seperti contoh, matematika terdiri dari 2 paper di setiap Extended dan Core (Extended adalah paper 2 dan paper 4; Core adalah paper 1 dan paper 3). Setelah itu, dirata-rata. Kompleks kan?
Banyak kenangan manis yang saya alami di Global Prestasi, seperti Life Skill ke Jogjakarta, menjadi salah satu bagian organisasi Pentas Seni yang dibintang tamui oleh The Sigit, berkunjung ke Museum Bahari dan Museum Fatahillah, dan sebagainya.
Seiring dengan berjalannya waktu, anggota kelas kami ada yang keluar, maupun bertambah. Pertama, Ami dan Intan keluar dari kelas kami karena mereka bermasalah, maksudnya, mereka ada masalah dengan beberapa guru maupun pelajaran di kelas kami. Lalu, kelas kami juga 'kemasukan' oleh satu orang anak regular, yaitu Yosua Marvelus. Sebenarnya calonnya ada 4, namun yang berhasil masuk hanya 1. Lalu, kelas kami juga kemasukan 2 anak dari Hong Kong, yaitu Karin dan Giffy. Marvel orangnya pandai, itu berarti saya harus bekerja ekstra untuk mempertahankan posisi saya. Karin dan Giffy itu mudah bergaul, jadi kelas kami berasa lebih hidup! Oh, iyaaaa. Trivet Sembel juga menjadi anggota kelas kami!! Jadi, Trivet Rieman Sembel itu merupakan mantan classmate kami di kelas 7-9. Namun, beliau pindah ke SPH college karena ingin diberikan orang tuanya mobil. Karena kecewa mobilnya tidak jadi dibelikan, beliau pindah ke Global lagi dan sekelas dengan kami. Jadi, orang-orang yang berhasil bertahan sampai kelulusan kelas 10 IGCSE adalah Adrian, Della, Maudy, Sheby, Marvel, Karin, Gify, dan saya sendiri (8 orang). Ah, alangkah indahnya kelas kami saat itu. Kita seperti satu keluarga :).
Setelah kurang dari satu tahun kami berperang menghadapi IGCSE, kami pun menghadapi tes IGCSE yang berada di Raffles School, di Pondok Indah (sekali lagi, karena waktu itu tahun pertama Global mengadakan IGCSE, jadi kami harus menumpang di sekolah lain yang merupakan Center IGCSE). Ketika kami menengok ke belakang, sebenarnya ada banyak sekali corak warna-warni yang telah kami tempuh. Banyak sekali momen-momen penting yang telah kami lalu pada saat mempersiapkan IGCSE. Dari guru-guru regular yang menganggap bahwa kami merendahkan kurikulum UN, persiapan Research papers yang sangat kompleks, konflik dengan guru IGCSE, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, kami menghadapi ujian IGCSE pada bulan Mei-Juni 2011.
Semua tes kami lalui dengan perasaan was-was dan semangat 45 (well, kecuali kimia). Waktu itu, kami hanya menunggu hasil yang akan diberikan pada bulan Agustus 2011 (untuk melihat hasil IGCSE, teruskan membaca yaa, nanti di akhir akan saya beritahukan).

Tiara Bangsa, Really?!
website Tiara Bangsa: http://www.acsjakarta.sch.id/
Ya, mungkin kalian bingung dengan judul di atas. Memang benar, saya telah gagal dua kali saat mencoba tes masuk Tiara Bangsa tahun 2010 lalu. Namun, kisah saya berhasil masuk sekolah Tiara Bangsa itu absurd. Jadi begini, waktu itu, teman-teman saya setelah lulus IGCSE berpindah sekolah di berbagai tempat (kecuali Yosua, Karin, dan Giffy. Mereka melanjutkan sekolah mereka di Global); Adrian di Raffles College (masuknya bulan Oktober 2011 - lama banget ya?); Ardella di sebuah uniprep yang namanya Uniprep (saya juga gak ngerti sama nama uniprepnya, tapi kata Della, itu nama uniprepnya: Uniprep); Maudy di Lasal College; Sheby dan Trivet di Amerika, nah, saya iseng-iseng mencoba tes di Tiara Bangsa. Untungnya, Tiara Bangsa juga mempersiapkan murid-murid mereka untuk menghadapi tes IGCSE. Jadi, tes masuknya juga sejenis dengan tes IGCSE. Namun bedanya, tesnya jauh lebih sukar dibandingkan IGCSE!! Tes yang saya terima waktu itu adalah Matematika, Bahasa Inggris, dan Sastra Indonesia. Setelah itu ada interview.
Hasil yang saya terima di tiga tes tersebut adalah A (80-90an), dan dari 70 kandidat yang mendaftar (ini kelas 10 ke kelas 11 lho, bukan SMP ke SMA), Tiara Bangsa hanya memilih sekitar 10 siswa untuk diinterview. Pada saat diinterview, kita disuruh memilih mata pelajaran yang akan kita pelajari. Jadi, sebenarnya Tiara Bangsa itu bukan sekolah, tetapi lebih identik dengan college. Saya memprioritaskan (Higher Level) Business and Management, Geography, dan English B. Dan Standard Levelnya adalah Matematika, Sastra Indonesia, dan Biologi. Sebenarnya saya ingin memilih matematika sebagai HL, namun saya tidak diizinkan karena saya tidak mengambil Additional Math, tetapi Extended Math di IGCSE.
Saya hampir gagal masuk di Tiara Bangsa saat itu, karena pada saat diinterview, saya mengatakan bahwa saya akan pergi liburan ke Los Angeles, sehingga saya akan absen 3 hari. Kepala sekolahnya beranggapan bahwa saya tidak serius sekolah di sana. Beliau menyuruh saya untuk membatalkan tiketnya/beli tiket pulang sebelum sekolah dimulai. Namun, saya berhasil menego-nego sehingga saya diizinkan (gak diizinin juga sih, namun saya hanya diam-diam, mengalihkan pembicaraan). Jadi, totalnya, dari 10 orang kandidat yang diinterview, hanya 4 orang yang diterima (dari 70 lho). Dan saya salah satunya teretetetetet~
Di Tiara Bangsa memang jauh berbeda atmosfernya kalau dibandingkan dengan Global Prestasi. Di sini, teman-teman saya semuanya berbicara dengan bahasa Inggris. Saya pun berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan mereka. Dan kalau dibandingkan dengan Global Prestasi, teman-teman di sini lebih individualis. Sama saja dengan guru-guru dan adek kelas maupun kakak kelas.
Di sini, adek kelasnya kurang respect haha. Mereka tidak menyebut 'kak'. Langsung saja sebut nama. Bahkan ada yang kalau menyapa sambil menepuk kepala kita. Buat mereka, di sini adalah hal yang biasa. Berbeda dengan Global Prestasi. Tapi jujur, mengenai hal ini, saya jauh lebih suka Global Prestasi. Lebih ada respectnya.
Guru-guru di sini juga hanya sebatas guru. Tidak seperti di Global Prestasi. Maksudnya, kalau di Global, guru-guru sudah seperti teman yang asyik. Bisa diajak bergaul. Saya pun sering nongkrong di ruang guru dan berbicara dengan mereka. Memang sih, umur guru-guru di Global juga banyak yang muda. Kalau di Tiara Bangsa, yah, kebalikannya. Guru hanya sebatas guru.
Kalau diukur dari prestasi teman-teman saya yang di Tiara Bangsa, ya, jauh berbeda dengan murid-murid yang di Global. Bukannya merendahkan ya, saya hanya berbicara tentang realita. Kalau saya bisa juara satu di Global, di Tiara Bangsa, peringkat saya mendekati peringkat terakhir. Memang, jumlah murid di Tiara Bangsa di angkatan saya hanya berkisar 30-an, namun mereka sangat pintar. Oh ya, di angkatan saya hanya ada dua kelas. Kelas Blue dan kelas Yellow. Kelas saya sendiri adalah kelas Blue. Tidak ada bedanya kok. Dibagi rata.
Pertama kali saya duduk di bangku Tiara Bangsa itu pada tanggal 13 Juli 2011. Berarti sudah sebulan lebih saya bersekolah di sana. Di sana, saya pernah menjadi MC buka puasa bersama, ini fotonya:


MC Buka Puasa Bersama
Teman-teman dan guru-guru yang menyaksikan sangat bangga dan bahagia dengan kehadiran saya sebagai MC. Bahkan, dari mereka banyak yang bilang kalau saya MC terbaik yang pernah ada. Nah, ini semua tidak akan terjadi kalau saya tidak bersekolah di Global Prestasi.
Jujur, kadang saya suka mengenang masa-masa saya bersekolah di Global Prestasi. Ketika belajar bersama di ruangan terenak di manapun, ketika mengadakan life skill, pergi bersama X5 ke Lembang tempat penginapan Trivet bersama Mr Andre Zhaga. Dan lainnya. Dan kenangan itu kan terukir selamanya di hati saya.
Berbicara tentang ruangan kelas, di Tiara Bangsa ruangan kelasnya sangat bagus. Ada 2 AC, dan papan tulisnya bisa digeser-geser (maklum, tahun lalu kelas saya menyerupai kelas yang ada di film Laskar Pelangi). Meja belajarnya pun jauh lebih luas daripada Global Prestasi. Dan setiap pagi, kita memiliki morning briefing yang terletak di ruangan PAT. Ruangan ini seperti ruangan di bioskop Blitz Megaplex. Sangat besar. Seperti kalau kalian menonton teater-teater opera atau musik klasik. Ada lightning-nya, sound effect, dan sebagainya.
Tempat favorit saya di Tiara Bangsa adalah perpustakaan. Ada ratusan, bahkan ribuan buku terkenal di tempat ini. Dan kita bisa membaca buku di tempat yang sangat nyaman dengan pemandangan yang begitu memukau. Terdapat kaca besar di perpustakaan itu dan pemandangannya adalah sungai dan pedesaan di wilayah kampung sekitar (lokasi Tiara Bangsa itu terpencil dan dikelilingi oleh daerah pedesaan). Sayangnya saya belum sempat mengambil foto di sekolah ini. Nanti, ketika saya mempunyai cukup waktu, akan saya publish di blog ini. Anyway, kan sudah saya berikan website Tiara Bangsa di atas. Coba saja diklik dahulu.
Nah, di kelas 10, saya mengikuti kurikulum IGCSE, sekarang saya melanjutkan kurikulum internasional saya dengan program IB (International Baccalaureate). Program ini jauh lebih susah dari IGCSE, karena memang lebih cenderung ke kuliah (makanya nilai saya jeblok, karena tahun lalu saya hanya mendapatkan 4 mata pelajaran IGCSE, bukan geografi, business and managament, maupun biologi).
Berbicara tentang IGCSE, hasil yang saya dapatkan di empat mata pelajaran adalah A* untuk matematika, A untuk fisika, B untuk bahasa Inggris, dan C untuk kimia. Teman-teman saya pun mendapatkan nilai yang memuaskan (kecuali kimia). Bahkan Yosua mampu mendapatkan 100 untuk pelajaran fisika!! Dan saya mendapatkan peringkat tertinggi di matematika (ada tiga orang mendapat A*. Untungnya, nilai saya tertinggi). Ini merupakan hal yang luar biasa karena ini pertama kalinya Global Prestasi mengadakan IGCSE dan guru-gurunya pun belum berpengalaman dengan IGCSE waktu itu. Memang hebat guru-guru Global Prestasi. 
Kalau dibandingkan dengan hasil IGCSE di Tiara Bangsa memang jauh berbeda. Di sini, teman saya banyak yang dapat A*. Satu orang ada yang mendapatkan 8 A*, 7 A*, 6 A*, dan sebagainya. Tetapi, mereka kan jauh lebih siap daripada kondisi kami waktu itu, jadi tidak diherankan.
Mengenai ekstrakulikuler di Tiara Bangsa juga beragam. Saya mengambil ekskul tenis dan drama. Seperti yang kalian ketahui, aktor merupakan impian saya. Dan saya sangat berharap suatu saat saya akan tambil di ruang PAT yang dipenuhi oleh kerlap-kerlip lighthing dan sound effect.
Untuk projek Tiara Bangsa yang akan mendatang, program IB ada subjek yang namanya CAS. CAS ini bukan seperti projek drama yang ada di Global Prestasi. Tapi CAS ini merupakan subjek tentang humanity, yang artinya mendorong kita untuk bersosialisasi dan peduli terhadap sesama. Nanti, kami akan pergi ke Sukabumi dan Kamboja untuk mendonorkan sumbangan kepada daerah dan negara tersebut. Dalam empat bulan, kita disuruh mengumpulkan 5 juta setiap siswa kelas 11. Menarik bukan?
Masa sekarang
Nah, seperti yang sudah saya katakan, sekarang saya sedang liburan Lebaran selama dua minggu. Dan esok hari jam 2 siang, saya akan berlibur ke Turki selama 10 hari.
Mengenai status saya, sekarang saya hanya siswa biasa. Namun ada beberapa stasiun radio yang menawarkan pekerjaan, seperti Gaya FM, Smart FM, dan sebagainya. Namun, berhubung dengan jadwal yang super padat, alhasil harus ditunda dahulu.
Mengenai Global Prestasi, saya dengar dari teman-teman saya sendiri dan orang-orang kalau Global Prestasi sekarang jauh lebih maju. Dan saya sangat berharap Global dapat terus maju dan memberikan corak prestasi kepada siswa siswinya dan menjadi sekolah teladan.
Oh iya, kelas saya sekarang sudah dibongkar. Ini gambarnya:
So Sad T_T
Untuk kedepannya, pihak Tiara Bangsa menawarkan saya untuk menjadi MC di acara promnight kelas 12. Dan pastinyaaaa, saya dengan sepenuh hati menerima tawaran tersebut. Namun itu belum tentu, hanya kandidat saja.
Kesimpulan
Kalian sudah baca kan semuanya?
Semoga kalian dapat mengambil pelajaran yang ada dalam kejadian-kejadian yang telah saya alami.
Nih, di kelas 10, saya merasa bahwa saya gagal karena harus meneruskan SMA di Global Prestasi. Tapi apa pada akhirnya? Saya belajar banyak di sekolah ini. Saya belajar bagaimana bersosialisasi dengan baik, belajar menjadi MC yang benar, dan pengalaman-pengalaman indah yang saya alami di sekolah ini. Lagipula, di Global Prestasi juga banyak keunggulannya dibandingkan dengan sekolah lain. Guru-gurunya sangat bersahabat dan banyak yang profesional dalam mengajar. Oleh karena itu, ingat, syukuri apa adanya. Jangan berpikir bahwa jalan yang kita pilih ini jalan yang terburuk dan kita berada di jalan buntu. Asumsikanlah hal-hal positif supaya kita bisa lebih maju kedepannya.
Mengenai Tiara Bangsa, kalian liat sendiri kan di link yang telah saya berikan di atas, mengenai kegagalan saya menempuh Tiara Bangsa waktu itu? Coba kalau saya menutup diri dan diam berputus asa tanpa mencoba memberanikan diri untuk mencoba tes di Tiara Bangsa lagi, mungkin saya hanya akan menjadi murid biasa dengan perasaan menyesal karena gagal meraih cita-cita saya untuk sekolah di Tiara Bangsa. Oleh karena itu, saya terus berusaha meraih cita-cita saya dengan strategi dan prinsip yang saya percaya (untuk membaca strategi keberhasilan saya, baca link ini: How to Be Successful)
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bahas di sini, namun berhubung waktu tidak mengizinkaaaan (sekarang jam 11 malam dan saya baru saja menyelesaikan tugas biologi. Belum beres-beres untuk ke Turki besok siang). Jadi, untuk menutupi postingan kali ini, pantang menyerah ya :). Untuk menjadi pemenang sejati itu tidak mudah. Dibutuhkan usaha dan strategi yang cerdik.
Enjoy your days, folks :D

Sabtu, 27 Agustus 2011

Indi Andani


Namanya Indi Andani.
Panggilannya Indi.
Begini cara mengucapkan namanya dalam Bahasa Inggris: In-Deeeeeeeeeee.
Kata ibuku, Indi artinya: Memiliki jiwa spiritual. Tidak dibuat-buat dan unik. Dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Memerlukan banyak kebebasan.
Begitukah? Aku tidak memerdulikan namanya. Masa bodo. Indi yang kutahu adalah Indi yang manis, lugu, baik, ramah, dan mudah bergaul.

Indi memiliki rambut bergelombang berwarna coklat kehitaman. Panjangnya sepunggung.
Kepalanya lonjong, namun tidak seperti terong. Hanya lonjong.
Matanya sedikit sipit, maklum, ada darah cina.
Iris matanya hitam kecoklatan. Cocok dengan rambutnya.
Alisnya segaris dan tipis
Hidungnya mancung dan bibirnya tipis merona. Oh, ya, ada lesung pipinya.
Tubuhnya mungil, mirip dengan tokoh gadis di Rapunzel. Tinggi badannya mungkin 160 cm? 170 cm?
Warna kulitnya kuning langsat.

Ayahnya ada darah cina, dan ibunya jawa.
Ia bisa berbahasa Jawa, tapi tidak bisa bahasa cina.
Agamanya Islam.
Ia memiliki satu adik laki-laki dan umurnya berselisih satu tahun dengan Indi.
Orang tua Indi berbakti dengan negara: 2 Anak Lebih Baik, program KB.
Indi suka warna aquamarine. Warna yang menyerupai air di Danau Toba. Warna yang tenang, seperti jiwa Indi.

Ayahku cina, begitu juga ibuku.
Aku bisa berbahasa Cina, sedikit bisa bahasa Jawa.
Agamaku bukan Islam, aku Katolik.
Aku memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan.
Orang tuaku tidak berbakti dengan negara: Banyak Anak itu Baik Sekali. Ayah Ibuku juga malas memikirkan tetek bengek politik di negara ini. Yang penting bisa hidup.
Aku suka warna hitam. Orang-orang percaya bahwa hitam itu warna yang jahat. Hitam itu warna iblis. Ah, persetan dengan mereka! Intinya, hitam itu warna yang menarik. Warna yang menyerap segala warna. Dan hitam itu warna yang mandiri.

Indi dilahirkan pada tanggal 2 Maret. Zodiaknya Pisces. Yang kutahu, Pisces itu periang dan mudah bergaul. Dan begitulah Indi.

Aku mengenal Indi tiga tahun lalu, ketika aku masih duduk di kelas 8, tahun 2008. Waktu itu ia masih kelas 7.

Indi yang dulu tidak ada bedanya dengan yang kukenal pada tahun lalu, ketika ia masih duduk di kelas 9.
Indi terlihat seperti pendiam, namun ketika ia sedang duduk di bangku sekolah, serasa mulutnya lebih dari satu. Ia suka memelintir rambutnya, memainkannya seperti ombak di pantai.
Ketika Indi tidak bisa menjawab soal, ia hanya akan memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapih.
Aku memang tidak sekelas dengannya, bahkan tidak seangkatan, namun aku tahu semua tentang Indi.

Indi merupakan anggota Modern Dance.
Ketika Indi menari ke sana kemari, seolah-olah ada kilatan cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Bersinar, mengikuti Indi menari. Absurd? Tapi ini yang kulihat, dengan mata kepalaku sendiri, dan dengan sedikit kegilaan.
Aku ingat, ketika aku dan Indi bermain bersama di suatu drama, tahun lalu. Aku menjadi tokoh yang jahat dan bengis. Indi menjadi tokoh figuran yang bertugas untuk menebarkan bunga. Dan saat itu aku bersumpah bahwa Indi adalah gadis termanis yang pernah kulihat.

Ketika Indi sudah besar, Indi ingin menjadi desaigner? Dancer? Entahlah. Yang pasti ia akan menjadi seseorang yang sukses karena sekarang Indi sudah rajin.

Indi pandai bermain piano. Ia menyukai piano.
Aku pernah sekali melihat Indi memainkan jari-jari mungilnya di atas piano, dan mungkin saja piano itu sudah ereksi berkali-kali. Ah, Indi begitu memesona!

Aku? Aku sangat menyukai biola, namun aku tidak bisa bermain biola.
Aku pernah sekali memainkan biola kepunyaan sepupuku. Dan ketika ia melihat aku memainkan biolanya, ia menjadi tidak selera bermain biola lagi. Seminggu kemudian, ia memberikan biolanya kepada orang lain.

Piano dan biola itu seperti sepasang kekasih, mereka dapat melahirkan simfoni-simfoni yang indah dan harmonis, namun apabila pemainnya sama-sama bisa menguasai piano/biola.Tidak seperti aku.
Mungkin suatu saat Indi akan menemukan pemain biola yang lebih handal, seperti Indi dengan kehandalannya bermain piano.

Dari situ aku mulai mencintai Indi, maksudku, menyukai Indi.

Sudah tiga tahun aku menyembunyikan perasaan ini.
Tidak satu orang pun tahu akan apa yang kurasakan waktu itu.
Bahkan aku sendiri pun tidak menyadarinya. Mungkin ia tertidur.
Kini ia bangun dan mengerang bagaikan bayi yang minta netek kepada ibunya.
Ia minta hati yang telah dicuri oleh Indi.
Namun kali ini, ia tidak hanya minta hatinya untuk dikembalikan.
Ia juga minta hati punya Indi.

Namun sayang,
Indi gak mau ngasih. Bahkan ia gak mau ngebalikin hati yang udah dia curi.

Indi terlalu sempurna.
Indi tuh gadis impianku!

O-oh, jangan-jangan Indi itu bukan manusia?
Mungkin saja Indi itu dewi dari surga yang menjelma menjadi manusia.
Atau mungkin saja dia putri malam!
Ia memerintahkan bintang untuk menemani laki-laki gila sepertiku.
Atau memang dia benar-benar pencuri.
Ia mencuri bintang, dan memberikannya kepada orang-orang naif sepertiku.
Hahahaha! Daya analitikku memang hebat.
Pasti Alm. Ibu Diana Leroy akan bangga apabila ia membaca karya abstrak ini.

Sialan, ternyata aku salah...
Ternyata Indi sendiri itu bintang.
Indi memancarkan sinarnya kepada setiap orang.
Makanya banyak laki-laki yang mengejarnya seperti tante-tante rebutan barang obralan.
Indi, Indi..
Kau begitu polos, namun mematikan.

Sekarang semuanya masih sama.
Indi masih tetap Indi. Manisnya, lugunya, baiknya. Masih sama.
Aku tetaplah aku. Pahitnya, amit-amitnya, jahatnya. Sama persis!
Cuma ada sedikit perbedaan.
Perasaan aku ke Indi makin melunjak...

Cuma yasudahlah.
Indi tetap bersikeras menyimpan hati yang udah dia curi.
Mungkin Indi bakal mengembalikan nanti, ketika ia sudah bosan dengan barang itu.
Atau mungkin Indi bakal menyambungkan sepotong hati itu dengan hati miliknya.
Dan aku masih bertahan dengan sepotong hati yang rusak dan cacat.
Ah, entahlah. Toh ini semua hanya ilusi semata.
Siluet Indi yang menyudutkan logika.
Haha, pintar sekali aku!

Minggu, 03 April 2011

Sepotong Hati

Sepotong Hati

Pertama kali aku berjumpa denganmu, tubuhku serasa bergairah dan masa mudaku seperti berseri kembali. Darahku berdesir dan melonjak-lonjak oleh perasaan riang tak terpahami. Lalu tanpa ragu-ragu, kuberikan sepotong hatiku padamu. Kau kaget dan menolak malu-malu.

“Jangan, Tante, berikan saja pada suami atau anak Tante!”

Aku memaksamu agar mau menerima sepotong hatiku. Kau tidak tahu bahwa ada tempat lagi bagi hatiku dalam tubuh suamiku. Dia selalu pergi dariku dan mencari kesenangan-kesenangan dirinya. Begitu juga anakku yang kini besar-besar, mereka mencari kesenangan sendiri.

“Terimalah!”Aku memohon dengan mimik merajuk.

Aku yakin, wajah dan tubuhku masih memancarkan gairah dan gejolak yang mampu menggetarkan setiap hati. Apalagi tubuhku, adalah tubuh yang begitu lama didera sepi, pasti menyimpah gairah terpendam.

“Kalau kau tidak mau hati, bagaimana kalau ini...”

Aku menunjukkan segepok uang. Kau melirik sekilas uang yang kutawarkan.

“Saya nggak bekerja seperti itu. Masa Tante nggak lihat tampang saya? Saya bukan orang yang tante maksudkan.”

“Aku tahu. Aku sudah mencoba berpuluh-puluh pemuda. Tapi kamu lain. Pertama kali kulihat kamu, aku jatuh cinta. Dan perasaan ini tampaknya tak akan hilang. Aku ikhlas memberikan hatiku padamu.”

”Buat diapakan?”

“Terserah kamu.”

“Nggak ah, Tante. Saya nggak bisa menerimanya. Makasih banyak. Saya hanya seorang pengamen, kadang-kadang dagang asongan. Tante bisa lihat tubuh dan pakaian yang dekil ini, kan?”

“Aku tahu. Karena itu buanglah daganganmu yang harganya nggak secuil pun uangku. Dengan uang yang kuberikan, kau bisa membeli apa pun yang kamu mau. Kamu sungguh tampan meski penampilanmu seperti itu. Kamu ...”

Tanpa mempedulikan katak-kataku, kau ngeloyot pergi dariku. Lalu kamu segera mengejar bis kota yang melaju sambil menyandang gitar. Bodoh! Umpatku dengan perasaan sakit. Berani benar kau menolakku. Aku berlari ke BMW-ku, dan segera membuntuti bis kota yang kau tumpangi. Padahal kalau kamu menerima cintaku, kamu tidak usah bersusah payah dan bermalu-malu meminta uang recehan seperti itu.

Di halte entah keberapa, kulihat kau turun. Aku mencegatmu.

“Hallo!” sapaku.

Kukenakan kacamata hitamku. Rambut ikalku kubiarkan tergerai diterpa angin. Kau terlongong. Mungkin kau berpikir, alangkah seksinya aku.

“Gimana, mau menerima tawaranku?” desakku.

“Jangan, Tante. Jangan terus ngikutin saya. Saya nggak mau.”

“Dengan kata lain, kau menolakku?”

Kau mengangguk mantap. Dadaku serasa dipukul. O, pemuda jujur, o, pemuda ganteng, kamu tak mempan dengan rayuan uang dan tubuh seksiku. Tapi aku jatuh cinta padamu. Kukhayalkan tubuhmu kulentangkan di rumput-rumput bundaran taman itu. Kubedah dadamu, dan kutempelkan hatiku di hatimu. Tapi kau melangkah meninggalkanku. Maka dengan gerak cepat, kuselipkan saja sepotong hatiku ke dalam rongga dadamu tanpa kau sendiri menyadarinya.

Setelah kejadian itu, kubiarkan diriku hidup dengan hati yang tinggal sepotong. Maka hari-hari serasa limbung, dan jiwaku terseok-seok. Tapi aku puas melakukan semua ini. Kesakitan ini begini nikmat. Aku telah melakukan pengorbanan demi orang yang kucintai. Toh akhirknya, dengan tempelan sepotong hatiku di hatimu, kau akan selalu mencariku, seperti lempeng magnit mencari besi. Kau akan menempel dan mencintaiku mati-matian. Dan kita akan bercinta, mati-matian.

Tapi ternyata dugaanku meleset. Ternyata jiwamu berubah secara drastis. Kau tak mau lagi jadi pengamen atau pegadang asong. Sifatmu menjadi sepertiku. Sering kulihat kau ke diskotik dan pub-pub sambil menggandeng perempuan kesepian sepertiku, bersama mereka tidur di hotel, atau bermain bilyard, pulangnya menggandeng salah seorang waitress yang kau sukai. Kulihat hidupmu menjadi glamor dan penuh kesenangan.

Aku mencarimu akhirnya, untuk menagih hatiku. Namun sial, pada saat aku sengaja mencarimu, kau seperti menghilang. Akhirnya, aku mencari tempat tinggalmu, aku yakin, kau yang sebenarnya pasti hidup di gang-gang kumuh. Maka pencarianku hanya berousat di tempat-tempat itu. Benar saja, kutemukan tempatmu di sini, di gang dengan parit comberan yang kental dan bau, dengan bocah-bocah penuh kudis dan ingus yang berlari-lari di sekitarnya. Kata orang-orang di gang ini, kamu mengontrak gubuk di ujung gang. Maka kucari kamu ke sana. Seorang perempuang berwajah kuyu dan berdaster lusuh membukakan pintu. Ada anak bermata cekung dalam gendongannya.

“Cari siapa, Bu?” tanyanya.

Kusebut namamu. Tiba-tiba perempuan itu menangis.

“Sudah hampir dua minggu dia nggak pulang, Bu. Saya sendiri nggak ngerti ulahnya akhir-akhir ini. Kata Mas Parjo temennya ngame, dia berubah sekarang. Katanya... katanya....”

Perempuah intu semakin keras mengisak. Anak kurus dalam gendongannya seperti akan ikut menangis.

”Sudah, sudahlah!” bujukku, “Kamu istrinya?”

Perempuan itu mengangguk sambil menghapus air matanya dengan ujung kain gendongan.

“Anak ini juga udah seminggu sakit. Mau berobat nunggu bapaknya. Biasanya pendapatan dia lumayan. Sekarang dia nggak ingat lagi sama anak-istri. Biasanya saya jualan lotek di sini, sekarang modalnya pun udah habis dipake makan, malah udah ngutang sana-sini.”

Perempuan itu terisak lagi. Dia tidak tahu bahwa perubahan sifatmu bukan kehendakmu sendiri. Tiba-tiba perempuan itu tersadar bahwa aku belum dipersilahkan masuk.

“O, iya, Bu. Mari masuk, Bu. Maaf saya lupa.”

Aku menolak masuk rumahmu. Lalu kutinggalkan pesan dan alamatku pada istrimu, agar kalu kau pulang, segera menghubungiku. Kau tidak tahu keadaanku yang parah oleh rindu padamu. Sebelum pergi, kukeluarkan segepok uang dan kuberikan pada istrimu. Dia kaget, dan menolak pada mulanya. Aku mendesaknya.

“Tapi Ibu siapa? Kenapa sebaik ini?”

“Aku dulu pernah ditolong suamimu waktu mobilku mogok. Sekarang ingin berterima kasih padanya, sekalian nagih hati.”

“Nagih hati? Maksud Ibu?”

“Ah, Nggak apa-apa. Udah gitu aja pesen buat suamimu. Permisi!”

Dari hari ke hari, dadaku semakin sakit. Kau, pemuda seusia anak sulungku, ternyata telah merebut segala perasaanku. Setiap hari aku berkeliaran dengan BMW-ku mencarimu. Diskotik-diskotik, super market, bioskop, hotel-hotel, cafetaria, kolam renang, tempat wisata, dan sebagainya, habis kukunjungi. Tapi aku tak menemukanmu. Aku kelayapan tiap malam di antara kelap-kelip lampu mencarimu. Kesepian dan perasaan kehilangan bagai udara musim dingin, menelikung dan membekukan urat syarafku.

Aku tak pernah lagi bermain dengan anak-anak muda. Sejak berjumpa dengamu, aku tak punya lagi keinginan bermain dengan mereka. Hanya kau yang bisa mengobatiku. Pertama kali aku melihatmu, darahku berdesir dan masa mudaku seperti berseri kembali. Aku seperti seorang gadis yang kasmaran pada seorang pemuda idaman, tapi dengan kecintaan yang murni, dengan pengorbanan yang murni, meski si gadis bertepuk sebelah tangan.

Suatu hari, tanpa disangka-sangka, kita bertemu di sebuah tempat perbelanjaan. Aku hampir berlari dan memelukmu. Tapi kukuatkan hatiku. Dengan sikap tenang dan hati-hati kusapa kamu. Aku kini, perempuan yang telah menerima suatu pelajaran dari pengalaman ini. Aku akan datang padamu dengan cinta tulus. Bukan lagi karena nafsu yang bisa dibeli dengan uang. Pengalamanku ditolak olehmu karena kurasa bisa dibeli dengan uang, telah cukup. Betapa sakit rasanya ditolak seseorang yang amat kita butuhkan. Tapi kau tidak seperti dulu lagi. Kejujuran dan keluguan dalam wajahmu hilang, berganti dengan wajah agresif dan menggoda. Cepat kuajak kau ke mobilku.

“Kita ke hotel,” kataku, “masih ingat aku?”

Kau tersenyum menampakkan sebaris gigi yang rapi dan bersih.

“Kenapa Tante masih ngejar saya?”

“Cinta sama kamu.”

“Tapi saya sudah berubah, Tante. Saya sekarang senang ngejar uang dan muasin keinginan saya. Cinta tak ada artinya lagi buat saya. Makanya kutinggalkan anak-istri di rumah. Aneh, akhir-akhir ini saya sangat kesepian. Saya tak puas dengan istri. Saya selalu ingin cari hiburan ...”

“Aku telah membuatmu jadi berperasaan seperti itu. Aku telah merusakmu. Makanya sekarang kamu harus ikut aku. Aku mau ngambil lagi hati yang dulu ditempelkan di hatimu.”

“Tante nempelin hati Tante di hati saya? Kapan? Dulu kan saya menolak.”

“Jangan banyak omong. Nanti kamu akan tahu sendiri bagaimana kukeluarkan hatiku dari hatimu. Aku dulu salah perhitungan. Kukira dengan kutempelkan hatiku di hatimu, kamu bakal ngejar aku. Ternyata sebaliknya. Malah perasaan-perasaan burukku yang nempel di jiwamu, dan membuat hidupmu rusak.”

Mobil yang semula akan kubelokkan ke sebuah hotel, tak jadi kubelokkan. Rencanaku membawamu ke hotel berubah. BMW-ku melaju lurus melewati jalan-jalan perkotaan hingga ke luar dari batas kota. Kubiarkan tanganku mengemudikan setir sekehendaknya sendiri.

Udara dalam mobil terasa sejuk oleh AC. Tape mengumandangkan instrumen jazz yang tenang. Di pinggir jalan yang kulewati,membentang perkebunan teh yang hijau dan segar. Di tempat agak sepi, kuparkir mobilku.

“Kok ke sini?”

“Diam dulu, sayang! Sengaja gak jadi ke hotel sebab itu pasti yang kau mau. Tidak. Aku tidak ingin kamu tetap menjadi pemuda yang tulus dan baik seperti dulu. Bukan seperti sekarang. Aku mencintaimu bukan untuk merusakmu. Aku kini sadar akan kesalahanku. Terlentanglah dulu!”

“Lho, mau apa?”

“Mau ngambil sepotong hati punyaku. Tak baik memaksa menyatukan hati yang tak ingin bersatu.”

“Biar saja hati Tante melekat di hati saya.”

“Perkataan itu datang dari pikiranmu yang sudah rusak. Bukan dari ketulusanmu.”

Akhirnya kau kuterlentangkan dengan agak paksa di jok mobil. Kubedah tubuhmu bagian depan. Lalu kuambil kembali sepotong hatiku ayng sudah mulai membusuk.

“Untung cepat-cepat kuambil. Lihat! Sudah busuk. Kalau tidak, mungkin kamu terjangkit kanker hati.”

“Mau ditempelkan lagi di hati Tante?”

“Nggak. Aku tahu kini betapa busuk hatiku itu. Apakah sepotongnya lagi yang masih melekat di tubuhku sebusuk itu juga? Aku nanti mau check-up sekalian membersihkan hatiku. Sekarang, mari kita pulang. Kembalilah pada istrimu, kembalilah pada hidupmu. Lupakan kejadian denganku, lupakan kejahatanku ...”

Aku menangis sebelum mampu menyetir mobil kembali.