Basi kali ya, kalau mulainya dengan "Haloooooooo... Gilak udh lama ye gw gak ngepost blooggg. Aduuuh sorrry ya gw sibuk bet", serasa banyak sekali orang yang membaca blog ini.
Haha, tapi memang sekolah itu bikin jadwal jadi padat banget (alibi). Benar seperti yang teman-teman saya katakan: "Guru-guru gak ikhlas ngasih libur. Kenapa? Buktinya PR tuh gak pernah habis. Selalu numpuk! Belum lagi yang mesti belajar buat tes habis liburan," dan memang itu kenyataannya. Sekarang saya sedang merayakan liburan Lebaran selama dua minggu, tapi PR dan ulangan yang mendatang itu gak kira-kira. Ini namanya bukan liburan, tapi belajar di rumah.
Anyway, saya ingin meng-update kabar saya, sekalian menceritakan apa yang udah saya alami. Bukan sok eksis kok, justru saya berharap teman-teman dapat belajar ataupun menghindari dari apa yang sudah saya alami.
Sekarang udah pertengahan tahun 2011, itu artinya saya sedang duduk di kelas 11 dan ajaibnya......... sekolah saya sekarang di Tiara Bangsa tereteteng~ wah bagaimana caranya? Nanti kita bahas :D.
Banyak sekali kejadian-kejadian menarik yang saya alami selama tahun 2010-2011, namun kalau saya bahas satu-persatu pasti akan ngejlimet dan panjang lebar banget. Jadi beberapa saja yaa.
Tahun 2010 itu tahun yang menarik. Maksudnya, banyak momen-momen 'cantik' yang terjadi pada tahun ini. Dan pastinya, saya banyak belajar hal-hal baru dan menantang di tahun 2010. Zaman-zaman ketika saya sibuk dengan UN dan tetek bengek-nya (klik link ini untuk membaca Persiapan UN). Sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi IGCSE tests, dan lain-lain.
Ini yang terjadi pada tahun 2010:
Hello, Royal Caribbean
Sebelum saya menginjakan kaki saya ke tahun ajaran 2010-2011, pastinya saya menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga besar (sekitar 50 orang). Dan liburan itu diadakan di atas kapal pesiar (atau istilah kerennya Cruise). Nama kapal itu adalah Royal Caribbean dan besarnya itu melebihi kapal Titanic!
Royal Caribbean
Lihat saja fotonya. Orang-orang menyebutnya Pangeran Laut, dan memang kapal itu pantas mendapatkan titel tersebut.
Di dalam kapal itu ada kolam berenang, tempat berjudi, tempat shopping, klab anak muda, lapangan basket dan bola, dan lainnya! Tempat yang paling mengasyikan adalah lantai paling atas. Di tempat ini kita bisa menghabiskan waktu dengan menikmati angin laut dan berjemur di atas hangatnya sinar mentari! Jadi nostalgia :P
Di kapal ini, kita merayakan tahun baru 2011 bersama orang Filipina, Australia, Singapura (kapal ini mangkal di Singapura), Korea, dan sebagainya. Kapal ini berlayar ke Thailand, Singapur, dan Malaysia.
Bagaimana dengan breakfast, lunch and dinner? 24 jam!!! Tidak heran selama 8 hari saya menghabiskan waktu di atas kapal tersebut, berat badan saya naik 10 kg (ini bukan penipuan). Bagaimana tidak? Makanan di kapal ini adalah makanan Western, Asian and European yang tiada duanya.
Hi, Global Prestasi School! :D
website Global Prestasi: http://www.globalprestasi.sch.id/MTA/index.html
Memang benar, waktu itu saya pernah merencanakan untuk sekolah di Tiara Bangsa, dan hasilnya gagal dua kali (Klik link ini untuk membaca postingan Tiara Bangsa). Jujur, waktu itu saya merasa sangat sedih, karena memang sekolah lain sudah tutup registrasi. Mau tidak mau, saya harus meneruskan Sekolah Menengah Atas saya di Global Prestasi. Dan saat itu, saya merasa gagal. Kenapa? Teman-teman saya pindah ke sekolah lain yang menurut mereka itu lebih bagus dari Global Prestasi, dan banyak rumor yang mengatakan bahwa SMA Global Prestasi itu tidak bagus.
Hari pertama saya duduk di bangku SMA Global Prestasi adalah bulan Januari 2011. Saya masih ingat, waktu itu saya merupakan siswa yang terlambat datang dan untungnya tidak ada hukuman karena saya adalah siswa baru.
Kelas saya (bukan kelas sih, tapi Homebase, karena SMA Global Prestasi kan Moving Class - jadi setiap pelajaran berbeda ruangannya dan kita, murid, harus pindah ruangan) berada di lantai 4, ruangan paling pojok. Saat saya masuk ke kelas itu, sudah ada teman-teman lama saya, yaitu Adrian, Sheby, Maudy, Della, Intan, dan Ami. Hanya 7 orang karena kelas kami adalah kelas O Level. Dulu, ketika saya duduk di kelas 7, jumlah murid O Level di kelas saya adalah 25 orang, dan waktu itu, ketika saya duduk di kelas 10, hanya tesisa 7 orang.
Nama wali kelas kami waktu itu adalah Mr Fajar. Beliau orangnya sangat baik dan sabar. Waktu itu kami sedang mengatur organisasi kelas kami, seperti ketua kelas, wakil ketua kelas, dan seksi-seksi yang bersangkutan. Adrian menjadi ketua kelas dan Maudy menjadi wakilnya. Saya menjadi seksi keseksian keamanan.
Setelah jam homeroom selesai, akhirnya kita masuk ke pelajaran sekolah. Ternyata, kelas yang kami duduki tadi itu bukan kelas tempat kami belajar, melainkan kelas yang kami dudukin ketika sedang ujian weektest (ujian yang diadakan selama seminggu dalam rentan waktu dua minggu sekali - hayo bingung). Nah, di mana kelas kami? Berikut fotonya:
My Beloved Class, X5
Chaos! Kelas itu berada di lantai 3 dan terpelosok. Dibuat dalam waktu 3 hari. Kelas kami gordennya merupakan kain hitam, lantai tidak ada ubin (hanya semen), tembok dari triplek, tidak ada jam, bangku yang kami pakai merupakan bangku anak SD. Ditambah lagi, hanya murid O Level yang tidak moving class. Jadi selamanya kita akan belajar di ruang itu, di semua mata pelajaran!!! Ah, mengingatkan saya pada film Laskar Pelangi.
Waktu pertama kali kami diperkenalkan dengan kelas tersebut, kami tidak mau diam. Bayangkan saja: kita membayar SPP sama - bahkan lebih mahal - dari anak-anak yang bukan O Level. Namun, yang kami dapat lebih jelek daripada mereka. Dan alasan koordinator waktu itu adalah "Kelas O Level kan tanggung jawabnya SMP, bukan SMA." HA! Absurd ya? Kan satu yayasan!
Oleh karena itu, kita komplain dan dengan berbagai alasan, akhirnya kami diberikan keadilan. Kelas kami dirakit sedemikian nyamannya hingga lebih menyerupai kelas disko dan kamar tidur daripada kelas tempat belajar.
Ini gambarnya:
Bersama mantan teman kelas kami, Ricky, dan Ms Benata
Kelas Disko
Nah, berbeda kan? Gorden di kelas kami diganti menjadi gorden yang lebih layak. Lalu ada jam dinding, dan semen yang kami gunakan dilapisi oleh karpet warna biru. Ditambah lagi rak sepatu yang terdapat pada pojok ruangan. Jadi, kalau ingin masuk ruangan kelas kami, sepatu harus dilepaskan terlebih dahulu.
Lucunya, banyak teman-teman dari kelas regular dan kakak kelas yang sirik dengan kelas kami HAHA! Mereka datang ke kelas kami lalu mengolok-olok dan menyindir kami dengan sinisnya, misal: "Ih, gila, kelas atau tempat tidur ya? haha." Padahal, sebelum kelas kami dirubah, banyak dari mereka yang merendahkan derajat kami, misalnya: "Oh? Ini kelas ya? Kirain gudang," sekarang mereka yang gigit jari.
Guru-guru yang mengajar kami pun merasa jauh lebih nyaman dibandingkan dengan kelas regular. Buktinya, mereka mengajar dengan cara lebih santai dan mereka jarang sekali marah, dibandingkan dengan cara mereka mengajar di kelas regular. Pokoknya beda deh. Kelas kami itu kelas terbaik yang ada di manapun!
Dulu, waktu kelas 7-9, Global bekerja sama dengan Shelton College. Dan kami merasa bahwa Shelton itu college abal-abalan. Lebih mirip pabrik roti, dan memang kualitas pendidikan di tempat itu sangat buruk. Nah, akhirnya, koordinator kelas O Level kami merombak kurikulum O Level menjadi IGCSE Cambridge! Keren kan? Biayanya pun lebih murah dari Shelton, dan asal kalian tahu, Cambridge itu diakui di seluruh dunia, berbeda dengan Shelton yang hanya mangkal di Singapur. Orang-orang di Singapur pun tidak tahu apa itu Shelton College, karena saking tidak terkenalnya.
Itu berarti, kita - kelas X5 (O Level) - memiliki 3 kurikulum, yaitu kurikulum IGCSE, nasional plus, dan Ms Liana Garcellano. Apa itu kurikulum Ms Garcellano? Begini, guru yang namanya Ms Liana itu suka membuat rute pelajaran sendiri. Mungkin dia merasa dia bukan bagian dari Global. Bayangkan saja, di tengah-tengah kesibukan kami mengerjar mati-matian IGCSE (IGCSE itu normalnya dipersiapkan selama 2 tahun, namun kita mempersiapkan kurang dari 1 tahun) dan nasional plus, Ms Garcellano memberikan kita projek Research Paper, yang akan kalian temui di kelas 12 (karya ilmiah). Dan gilanya, bukan hanya 1, tapi DUA RESEARCH PAPERS. Jujur, buat saya, 1 research paper itu sangat membantu, karena memang berguna untuk mempersiapkan mental kami untuk di kuliah nanti, tapi kalau 2 research papers itu mengganggu. Sangat mengganggu kesibukan kami yang lain.
Pelajaran IGCSE yang kami ambil adalah Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, dan Kimia. Matematika dipegang oleh Ms Benata. Beliau itu mantan wali kelas kami di kelas 9, sekaligus guru matematika regular kami di kelas 9. Ms Ben sangat berjasa bagi kami, beliau sangat sabar menangani kami dan sangat berani! Bayangkan saja, mata pelajaran yang seharusnya dipersiapkan selama 2 tahun, ia berani mengambil resiko dengan mengajarkan kami dalam waktu 1 tahun!! Begitu juga dengan Ms Krista, guru fisika kami. Jujur, menurut saya, fisika itu pelajaran yang tersulit di antara keempat pelajaran tersebut, namun Ms Krista dengan sabarnya bisa 'menyuapi' satu demi satu materi yang tertinggal jauh dibandingkan dengan sekolah-sekolah internasional yang telah menyiapkan materi IGCSE dari kelas 9. Bahasa Inggris, pastinya, dipegang oleh Ms Garcellano. Dan jujur, dari satu tahun kita belajar dengan beliau, kita hanya mempersiapkan IGCSE sebanyak 20 persen. Dan lainnya kita mengikuti rutenya sendiri. Karena memang beliau beranggapan bahwa inggris kita sudah lihai. Kita disuruh menghapalkan lebih dari 120 New Words in English - ya, ditengah kesibukan kami mempersiapkan IGCSE. Bagaimana dengan kimia? Jujur, gurunya tidak bisa mengajar sama sekali. Beliau memang tidak berpengalaman menjadi guru, namun suster di rumah sakit. Tapi saya pun heran mengapa beliau mencalonkan diri sebagai guru di sekolah kami. Padahal, kimia itu jauh lebih mudah daripada fisika. Namun, sayang....
Oh ya, sebelumnya mari saya jelaskan secara singkat apa IGCSE itu. Jadi, IGCSE itu merupakan singkatan dari International General Certificate of Secondary Education. Nah, dari namanya saja kita sudah bisa mengetahui bahwa sertifikat IGCSE ini diakui oleh seluruh negara. IGCSE sendiri dibuat oleh universitas nomor 1 di dunia, yaitu Cambridge, yang bertempat di Inggris. Tingkat kesulitan tes IGCSE itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu Extended (complicated/sulit) dan Core (dasar/mudah). Siswa yang mengambil extended bisa mendapatkan nilai tertinggi, yaitu A* (90-100), namun bisa mendapatkan G/U (nilai terjelek). Sedangkan Core, nilai tertingginya itu adalah C (50-60), namun probabilitas mendapatkan nilai terjelek itu sangat kecil, karena core kan mudah. Saya mengambil extended di semua pelajaran.
Sebenarnya, tes IGCSE itu ada banyak sekali, namun karena ini tahun pertama Global mengadakan tes IGCSE, jadi koordinator O Level hanya mengambil empat pelajaran, dan bukan kami yang memilih. Di setiap mata pelajaran yang diujikan oleh IGCSE Cambridge, terdapat beberapa papers. Itu maksudnya, dalam satu pelajaran yang diujikan tidak hanya 1 tes, tetapi lebih. Seperti contoh, matematika terdiri dari 2 paper di setiap Extended dan Core (Extended adalah paper 2 dan paper 4; Core adalah paper 1 dan paper 3). Setelah itu, dirata-rata. Kompleks kan?
Banyak kenangan manis yang saya alami di Global Prestasi, seperti Life Skill ke Jogjakarta, menjadi salah satu bagian organisasi Pentas Seni yang dibintang tamui oleh The Sigit, berkunjung ke Museum Bahari dan Museum Fatahillah, dan sebagainya.
Seiring dengan berjalannya waktu, anggota kelas kami ada yang keluar, maupun bertambah. Pertama, Ami dan Intan keluar dari kelas kami karena mereka bermasalah, maksudnya, mereka ada masalah dengan beberapa guru maupun pelajaran di kelas kami. Lalu, kelas kami juga 'kemasukan' oleh satu orang anak regular, yaitu Yosua Marvelus. Sebenarnya calonnya ada 4, namun yang berhasil masuk hanya 1. Lalu, kelas kami juga kemasukan 2 anak dari Hong Kong, yaitu Karin dan Giffy. Marvel orangnya pandai, itu berarti saya harus bekerja ekstra untuk mempertahankan posisi saya. Karin dan Giffy itu mudah bergaul, jadi kelas kami berasa lebih hidup! Oh, iyaaaa. Trivet Sembel juga menjadi anggota kelas kami!! Jadi, Trivet Rieman Sembel itu merupakan mantan classmate kami di kelas 7-9. Namun, beliau pindah ke SPH college karena ingin diberikan orang tuanya mobil. Karena kecewa mobilnya tidak jadi dibelikan, beliau pindah ke Global lagi dan sekelas dengan kami. Jadi, orang-orang yang berhasil bertahan sampai kelulusan kelas 10 IGCSE adalah Adrian, Della, Maudy, Sheby, Marvel, Karin, Gify, dan saya sendiri (8 orang). Ah, alangkah indahnya kelas kami saat itu. Kita seperti satu keluarga :).
Setelah kurang dari satu tahun kami berperang menghadapi IGCSE, kami pun menghadapi tes IGCSE yang berada di Raffles School, di Pondok Indah (sekali lagi, karena waktu itu tahun pertama Global mengadakan IGCSE, jadi kami harus menumpang di sekolah lain yang merupakan Center IGCSE). Ketika kami menengok ke belakang, sebenarnya ada banyak sekali corak warna-warni yang telah kami tempuh. Banyak sekali momen-momen penting yang telah kami lalu pada saat mempersiapkan IGCSE. Dari guru-guru regular yang menganggap bahwa kami merendahkan kurikulum UN, persiapan Research papers yang sangat kompleks, konflik dengan guru IGCSE, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, kami menghadapi ujian IGCSE pada bulan Mei-Juni 2011.
Semua tes kami lalui dengan perasaan was-was dan semangat 45 (well, kecuali kimia). Waktu itu, kami hanya menunggu hasil yang akan diberikan pada bulan Agustus 2011 (untuk melihat hasil IGCSE, teruskan membaca yaa, nanti di akhir akan saya beritahukan).
Tiara Bangsa, Really?!
website Tiara Bangsa: http://www.acsjakarta.sch.id/
Ya, mungkin kalian bingung dengan judul di atas. Memang benar, saya telah gagal dua kali saat mencoba tes masuk Tiara Bangsa tahun 2010 lalu. Namun, kisah saya berhasil masuk sekolah Tiara Bangsa itu absurd. Jadi begini, waktu itu, teman-teman saya setelah lulus IGCSE berpindah sekolah di berbagai tempat (kecuali Yosua, Karin, dan Giffy. Mereka melanjutkan sekolah mereka di Global); Adrian di Raffles College (masuknya bulan Oktober 2011 - lama banget ya?); Ardella di sebuah uniprep yang namanya Uniprep (saya juga gak ngerti sama nama uniprepnya, tapi kata Della, itu nama uniprepnya: Uniprep); Maudy di Lasal College; Sheby dan Trivet di Amerika, nah, saya iseng-iseng mencoba tes di Tiara Bangsa. Untungnya, Tiara Bangsa juga mempersiapkan murid-murid mereka untuk menghadapi tes IGCSE. Jadi, tes masuknya juga sejenis dengan tes IGCSE. Namun bedanya, tesnya jauh lebih sukar dibandingkan IGCSE!! Tes yang saya terima waktu itu adalah Matematika, Bahasa Inggris, dan Sastra Indonesia. Setelah itu ada interview.
Hasil yang saya terima di tiga tes tersebut adalah A (80-90an), dan dari 70 kandidat yang mendaftar (ini kelas 10 ke kelas 11 lho, bukan SMP ke SMA), Tiara Bangsa hanya memilih sekitar 10 siswa untuk diinterview. Pada saat diinterview, kita disuruh memilih mata pelajaran yang akan kita pelajari. Jadi, sebenarnya Tiara Bangsa itu bukan sekolah, tetapi lebih identik dengan college. Saya memprioritaskan (Higher Level) Business and Management, Geography, dan English B. Dan Standard Levelnya adalah Matematika, Sastra Indonesia, dan Biologi. Sebenarnya saya ingin memilih matematika sebagai HL, namun saya tidak diizinkan karena saya tidak mengambil Additional Math, tetapi Extended Math di IGCSE.
Saya hampir gagal masuk di Tiara Bangsa saat itu, karena pada saat diinterview, saya mengatakan bahwa saya akan pergi liburan ke Los Angeles, sehingga saya akan absen 3 hari. Kepala sekolahnya beranggapan bahwa saya tidak serius sekolah di sana. Beliau menyuruh saya untuk membatalkan tiketnya/beli tiket pulang sebelum sekolah dimulai. Namun, saya berhasil menego-nego sehingga saya diizinkan (gak diizinin juga sih, namun saya hanya diam-diam, mengalihkan pembicaraan). Jadi, totalnya, dari 10 orang kandidat yang diinterview, hanya 4 orang yang diterima (dari 70 lho). Dan saya salah satunya teretetetetet~
Di Tiara Bangsa memang jauh berbeda atmosfernya kalau dibandingkan dengan Global Prestasi. Di sini, teman-teman saya semuanya berbicara dengan bahasa Inggris. Saya pun berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan mereka. Dan kalau dibandingkan dengan Global Prestasi, teman-teman di sini lebih individualis. Sama saja dengan guru-guru dan adek kelas maupun kakak kelas.
Di sini, adek kelasnya kurang respect haha. Mereka tidak menyebut 'kak'. Langsung saja sebut nama. Bahkan ada yang kalau menyapa sambil menepuk kepala kita. Buat mereka, di sini adalah hal yang biasa. Berbeda dengan Global Prestasi. Tapi jujur, mengenai hal ini, saya jauh lebih suka Global Prestasi. Lebih ada respectnya.
Guru-guru di sini juga hanya sebatas guru. Tidak seperti di Global Prestasi. Maksudnya, kalau di Global, guru-guru sudah seperti teman yang asyik. Bisa diajak bergaul. Saya pun sering nongkrong di ruang guru dan berbicara dengan mereka. Memang sih, umur guru-guru di Global juga banyak yang muda. Kalau di Tiara Bangsa, yah, kebalikannya. Guru hanya sebatas guru.
Kalau diukur dari prestasi teman-teman saya yang di Tiara Bangsa, ya, jauh berbeda dengan murid-murid yang di Global. Bukannya merendahkan ya, saya hanya berbicara tentang realita. Kalau saya bisa juara satu di Global, di Tiara Bangsa, peringkat saya mendekati peringkat terakhir. Memang, jumlah murid di Tiara Bangsa di angkatan saya hanya berkisar 30-an, namun mereka sangat pintar. Oh ya, di angkatan saya hanya ada dua kelas. Kelas Blue dan kelas Yellow. Kelas saya sendiri adalah kelas Blue. Tidak ada bedanya kok. Dibagi rata.
Pertama kali saya duduk di bangku Tiara Bangsa itu pada tanggal 13 Juli 2011. Berarti sudah sebulan lebih saya bersekolah di sana. Di sana, saya pernah menjadi MC buka puasa bersama, ini fotonya:
MC Buka Puasa Bersama
Teman-teman dan guru-guru yang menyaksikan sangat bangga dan bahagia dengan kehadiran saya sebagai MC. Bahkan, dari mereka banyak yang bilang kalau saya MC terbaik yang pernah ada. Nah, ini semua tidak akan terjadi kalau saya tidak bersekolah di Global Prestasi.
Jujur, kadang saya suka mengenang masa-masa saya bersekolah di Global Prestasi. Ketika belajar bersama di ruangan terenak di manapun, ketika mengadakan life skill, pergi bersama X5 ke Lembang tempat penginapan Trivet bersama Mr Andre Zhaga. Dan lainnya. Dan kenangan itu kan terukir selamanya di hati saya.
Berbicara tentang ruangan kelas, di Tiara Bangsa ruangan kelasnya sangat bagus. Ada 2 AC, dan papan tulisnya bisa digeser-geser (maklum, tahun lalu kelas saya menyerupai kelas yang ada di film Laskar Pelangi). Meja belajarnya pun jauh lebih luas daripada Global Prestasi. Dan setiap pagi, kita memiliki morning briefing yang terletak di ruangan PAT. Ruangan ini seperti ruangan di bioskop Blitz Megaplex. Sangat besar. Seperti kalau kalian menonton teater-teater opera atau musik klasik. Ada lightning-nya, sound effect, dan sebagainya.
Tempat favorit saya di Tiara Bangsa adalah perpustakaan. Ada ratusan, bahkan ribuan buku terkenal di tempat ini. Dan kita bisa membaca buku di tempat yang sangat nyaman dengan pemandangan yang begitu memukau. Terdapat kaca besar di perpustakaan itu dan pemandangannya adalah sungai dan pedesaan di wilayah kampung sekitar (lokasi Tiara Bangsa itu terpencil dan dikelilingi oleh daerah pedesaan). Sayangnya saya belum sempat mengambil foto di sekolah ini. Nanti, ketika saya mempunyai cukup waktu, akan saya publish di blog ini. Anyway, kan sudah saya berikan website Tiara Bangsa di atas. Coba saja diklik dahulu.
Nah, di kelas 10, saya mengikuti kurikulum IGCSE, sekarang saya melanjutkan kurikulum internasional saya dengan program IB (International Baccalaureate). Program ini jauh lebih susah dari IGCSE, karena memang lebih cenderung ke kuliah (makanya nilai saya jeblok, karena tahun lalu saya hanya mendapatkan 4 mata pelajaran IGCSE, bukan geografi, business and managament, maupun biologi).
Berbicara tentang IGCSE, hasil yang saya dapatkan di empat mata pelajaran adalah A* untuk matematika, A untuk fisika, B untuk bahasa Inggris, dan C untuk kimia. Teman-teman saya pun mendapatkan nilai yang
memuaskan (kecuali kimia). Bahkan Yosua mampu mendapatkan 100 untuk pelajaran
fisika!! Dan saya mendapatkan peringkat tertinggi di matematika (ada tiga orang
mendapat A*. Untungnya, nilai saya tertinggi). Ini merupakan hal yang luar biasa karena ini pertama kalinya Global Prestasi mengadakan IGCSE dan guru-gurunya pun belum berpengalaman dengan IGCSE waktu itu. Memang hebat guru-guru Global Prestasi.
Kalau dibandingkan dengan hasil IGCSE di Tiara Bangsa memang jauh berbeda. Di sini, teman saya banyak yang dapat A*. Satu orang ada yang mendapatkan 8 A*, 7 A*, 6 A*, dan sebagainya. Tetapi, mereka kan jauh lebih siap daripada kondisi kami waktu itu, jadi tidak diherankan.
Mengenai ekstrakulikuler di Tiara Bangsa juga beragam. Saya mengambil ekskul tenis dan drama. Seperti yang kalian ketahui, aktor merupakan impian saya. Dan saya sangat berharap suatu saat saya akan tambil di ruang PAT yang dipenuhi oleh kerlap-kerlip lighthing dan sound effect.
Untuk projek Tiara Bangsa yang akan mendatang, program IB ada subjek yang namanya CAS. CAS ini bukan seperti projek drama yang ada di Global Prestasi. Tapi CAS ini merupakan subjek tentang humanity, yang artinya mendorong kita untuk bersosialisasi dan peduli terhadap sesama. Nanti, kami akan pergi ke Sukabumi dan Kamboja untuk mendonorkan sumbangan kepada daerah dan negara tersebut. Dalam empat bulan, kita disuruh mengumpulkan 5 juta setiap siswa kelas 11. Menarik bukan?
Masa sekarang
Nah, seperti yang sudah saya katakan, sekarang saya sedang liburan Lebaran selama dua minggu. Dan esok hari jam 2 siang, saya akan berlibur ke Turki selama 10 hari.
Mengenai status saya, sekarang saya hanya siswa biasa. Namun ada beberapa stasiun radio yang menawarkan pekerjaan, seperti Gaya FM, Smart FM, dan sebagainya. Namun, berhubung dengan jadwal yang super padat, alhasil harus ditunda dahulu.
Mengenai Global Prestasi, saya dengar dari teman-teman saya sendiri dan orang-orang kalau Global Prestasi sekarang jauh lebih maju. Dan saya sangat berharap Global dapat terus maju dan memberikan corak prestasi kepada siswa siswinya dan menjadi sekolah teladan.
Oh iya, kelas saya sekarang sudah dibongkar. Ini gambarnya:
So Sad T_T
Untuk kedepannya, pihak Tiara Bangsa menawarkan saya untuk menjadi MC di acara promnight kelas 12. Dan pastinyaaaa, saya dengan sepenuh hati menerima tawaran tersebut. Namun itu belum tentu, hanya kandidat saja.
Kesimpulan
Kalian sudah baca kan semuanya?
Semoga kalian dapat mengambil pelajaran yang ada dalam kejadian-kejadian yang telah saya alami.
Nih, di kelas 10, saya merasa bahwa saya gagal karena harus meneruskan SMA di Global Prestasi. Tapi apa pada akhirnya? Saya belajar banyak di sekolah ini. Saya belajar bagaimana bersosialisasi dengan baik, belajar menjadi MC yang benar, dan pengalaman-pengalaman indah yang saya alami di sekolah ini. Lagipula, di Global Prestasi juga banyak keunggulannya dibandingkan dengan sekolah lain. Guru-gurunya sangat bersahabat dan banyak yang profesional dalam mengajar. Oleh karena itu, ingat, syukuri apa adanya. Jangan berpikir bahwa jalan yang kita pilih ini jalan yang terburuk dan kita berada di jalan buntu. Asumsikanlah hal-hal positif supaya kita bisa lebih maju kedepannya.
Mengenai Tiara Bangsa, kalian liat sendiri kan di link yang telah saya berikan di atas, mengenai kegagalan saya menempuh Tiara Bangsa waktu itu? Coba kalau saya menutup diri dan diam berputus asa tanpa mencoba memberanikan diri untuk mencoba tes di Tiara Bangsa lagi, mungkin saya hanya akan menjadi murid biasa dengan perasaan menyesal karena gagal meraih cita-cita saya untuk sekolah di Tiara Bangsa. Oleh karena itu, saya terus berusaha meraih cita-cita saya dengan strategi dan prinsip yang saya percaya (untuk membaca strategi keberhasilan saya, baca link ini: How to Be Successful)
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bahas di sini, namun berhubung waktu tidak mengizinkaaaan (sekarang jam 11 malam dan saya baru saja menyelesaikan tugas biologi. Belum beres-beres untuk ke Turki besok siang). Jadi, untuk menutupi postingan kali ini, pantang menyerah ya :). Untuk menjadi pemenang sejati itu tidak mudah. Dibutuhkan usaha dan strategi yang cerdik.
Enjoy your days, folks :D







